Terkadang Adab mengarahkan mereka untuk tidak meminta, semata karena mengandalkan pada bagian yang sudah ditentukan, dan lebih menyibukkan dzikir kepada Allah Swt dibanding memohon kepadaNya.


Dalam Al-Qur’an ditegaskan, 
“Dia yang menciptaku maka Dialah yang memberi hidayah kepadaku.” (QS. Asyu’ara’: 78). 

Ketika Nabi Ibrahim as, berada di tempat pelemparan, beliau hanya berkata, “Cukuplah bagiku dibanding permintaanku, adalah pengetahuanNya tentangf kondisiku.” Beliau tidak sama sekali memohon dan mengajukan sesuatu, namun merasa lebih cukup dengan IlmuNya.

Ibnu Athaillah menggunakan kata “terkadang”, karena pada umumnya kaum arifin dan mereka yang fana’ lebih banyak diam dan lebih menerima jalannya takdir, sehingga sedikit sekali mereka memohon. Bagi mereka tidak ada kepentingan terhadap dirinya, karena tidak ada selain Allah sebagai tempat tujuan. Dalam hadits Qudsi  disebutkan: “Siapa yang lebih sibuk berdzikir kepadaKu dibanding meminta kepadaKu, justru Aku beri ia lebih utama dibanding yang Kuberikan kepada orang-orang yang meminta.”

Al-Wasityh menegaskan, “Apa yang berlaku di zaman Azali bagimu, lebih utama dibanding melawan zaman, yakni mencari pemenuhan keinginan.”

Al-Qusyairy mengatakan, “Bila dalam hatinya ada isyarat untuk berdoa, ia akan berdoa. Sebagaimana jika ia temukan upaya atau hamparan untuk doa, maka berdoa itu lebih utama. Sebaliknya bila hatinya berada dalam cekaman, justru diam itu lebih utama”.

Sebab Allah lebih tahu atas apa yang tersembunyi dalam berbagai persoalan kita. Maka Ibnu Athaillah melanjutkan:

“Sesungguhnya yang diingatkan itu adalah orang yang memiliki sifat alpa, dan yang digugah itu adalah orang yang memiliki sifat lalai.”

Terkadang orang berdoa, seakan-akan mengingatkan kepada Allah Swt, agar peduli padanya, agar ingat atas nasibnya, deritanya. Padahal Allah Swt tak pernah lalai, tak pernah lupa dan tak pernah alpa.  Dalam Al-Qur’an disebutkan “Allah tidak pernah lupa atas apa yang kalian lakukan.” Dan firmanNya, “Bukankah Allah lebih Maha Mencukupi hambaNya?”

Allah Swt tidak butuh untuk diingatkan atau digugah. Karena itu siapa yang merasa mengatur hal-hal yang sudah diatur oleh Allah Ta’ala, justru orang tersebut tergolong orang yang lalai.  Siapa yang sempurna yakinnya kepada Allah, ia merasa cukup dengan aturan kehendakNya, puas dengan IlmuNya dibanding tuntutan dirinya. Rela dengan pengaturanNya dibanding rencana dan rekayasanya. Orang yang sempurna itulah sebagaimana jejak Nabi Ibrahim as, tersebut.

Oleh sebab itu, kalau mereka berdoa, tidak lebih sebagai wujud kehambaan (ubudiyah) demi membuktikan rasa butuhnya yang harus dipertahankan selama-lamanya dihadapanNya. Karena rasa butuh itulah wujud pesta raya bagi para penempuh jalan menuju kepadaNya. Dengan munculnya rasa butuh, kepentingan nafsu jadi sirna, lebih senang dengan munculnya hati yang hadir di hadapanNya.

Dari Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily



Barangsiapa memutuskan diri untuk tidak mengurus  dirinya dan melimpahkan urusannya pada Allah, memutuskan pilihannya hanya pada pilihan Allah, memutuskan pandangannya hanya memandang Allah, memutuskan kebaikannya hanya pada ilmu Allah disebabkan oleh disiplin kepatuhan dan ridhanya, kepasrahan total dan tawakalnya pada Allah, maka Allah benar-benar menganugerahkan kebaikan nurani hati, yang juga disertai dengan dzikir, tafakkur dan hal-hal lain yang sangat istimewa.

Syeikh Abul Hasan berkata pada salah satu muridnya: Aku melihatmu  senantiasa mengekang nafsumu dan menarik perkaramu dalam memerangi  nafsumu itu. Engkau wahai Luka’ bin Luka’, maksudku dengan itu menyatakan dua nafsu, terhadap leluhur dan pada anak-anak. Engkau ditindih oleh ikut mengatur urusan  (yang bukan urusanmu), hingga sampai pada suapan yang engkau makan dan minuman yang engkau teguk, juga dalam ucapan yang engkau katakan atau engkau diamkan. Lalu diamana posisimu di hadapan Yang Maha Mengatur, Maha Tahu dan Maha Mendengar lagi Melihat;  Maha Bijaksana lagi Maha Waspada, Yang Maha Agung Keagungan-Nya dan Maha Suci Asma’-asma’-Nya? Bagaimana bisa Dia disertai oleh yang lain-Nya? Karena itu bila engkau menghendaki sesuatu yang akan engkau lakukan atau engkau tinggalkan, maka berlarilah kepada  Allah menghindari semua itu, maka Allah pun akan menyingkirkanmu  dari neraka. Jangan mengecualikan sedikitpun. Tunduklah kepada Allah, kembalikan dirimu kepada Allah. Sebab Tuhanmu mencipta apa yang dikehendaki-Nya dan memilihkan.

Hal demikian tidak akan kokoh kecuali pada orang yang benar atau seorang wali. Orang yang benar adalah orang yang mengikuti aturan hukum. Sedangkan wali orang yang tidak mempunyai aturan hukum. Orang yang benar bersama hukum Allah, sedangkan wali, fana’ dari segala sesuatu bersama Allah. Sementara para Ulama ikut  mengatur dan  memilih, menganalisa dan mengiaskan. Mereka dengan segenap akal dan sifatnya senantiasa demikian. Sedangkan para syuhada’ terus menerus mengendalikan dan berjuang, mereka  berperang, membunuh dan dibunuh, dan mereka hidup dan ada pula yang mati. Mereka dihadapan Allah tetap hidup walaupun secara indera dan fisik tidak ada. Adapun orang-orang shaleh, jasad mereka disucikan sedangkan rahasia batin mereka menggigil dan tegang. Tidak relevan untuk menjelaskan kondisi ruhani mereka kecuali  bagi orang yang benar pada awal langkahnya atau bagi wali pada akhir tahapnya. Engkau cukup melihat apa yang tampak pada lahirnya berupa kebajikan-kebajikan mereka, dan jangan berupaya  menjelaskan kondisi batin mereka. Kalau engkau inginkan suatu perkara yang hendak  engkau lakukan atau engkau tinggalkan, kembalilah  kepada Allah, seperti yang kukatakan kepadamu. Mohonlah pertolongan kepada Allah dan kembalikan dirimu pada-Nya. Ucapkanlah:

“Wahai Yang Awal, wahai Yang Akhir,aku memohon demi kebenaran namaku pada Asma-Mu, dan sifatku pada Sifat-Mu, dan urusanku pada Urusan-Mu, pilihanku pada Pilihan-Mu,  jadikanlah bagiku sebagaimana engkau berikan kepada wali-wali-Mu (Dan masukkan diriku) dalam berbagai hal (pada jalan masuk yang benar, dan keluarkanlah diriku tempat keluar yang benar, dan berikanlah padaku, dari sisi-Mu, kekuasaan yang menolong). Takutlah dirimu untuk bersangka buruk kepada Allah:  “Bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

Aku pernah melihat, seakan-akan diriku duduk dengan salah seorang muridku di hadapan guruku —semoga Allah merahmatinya—,  lalu guruku berkata, “Jagalah empat hal dariku. Tiga untukmu dan yang satu untuk orang yang kasihan ini:

Janganlah engkau berusaha memilih persoalanmu  sedikit  pun, pilihlah untuk tidak memilih. Berlarilah dari semua upaya memilih itu. Penghindaran pilihanmu pada segala sesuatu,  semata untuk menuju kepada Allah. “Dan Tuhanmu menciptakan  apa yang dikehendaki-Nya dan memilih apa yang terbaik bagi mereka.”

Setiap pilihan-pilihan syariat dan tata aturannnya, maka itulah pilihan Allah, engkau tidak memiliki kompetensi di dalamnya, dan engkau harus patuh pada-Nya, simak dan taatlah. Itulah posisi Pemahaman Ilahi (fiqhul-Ilahy) dan Ilmu Ilhami (ilmul-ilhamy). itulah bumi ilmu hakikat yang diambil dari Allah bagi orang  yang bertindak lurus. Fahami dan baca, serta berdoalah kepada Tuhanmu, sesungguhnya engkau berada dalam petunjuk yang lurus. Namun apabila mereka membantahmu, katakanlah, Allah Mahatu atas apa yang kalian  semua ketahui.

Engkau harus tetap zuhud di dunia dan bertawakal kepada Allah. Sebab zuhud itu merupakan fondasi amal, dan tawakal merupakan modal dalam berbagai tingkah laku ruhani. Bersaksilah kepada Allah dan berpegang teguhlah dalam ucapan-ucapan, tindakan-tindakan, akhlak, dan tingkah laku ruhani. “Barangsiapa berpegang teguh kepada Allah, maka benar-benar ia diberi petunjuk ke jalan lurus.”

Takutlah untuk bersikap ragu, syirik, tamak, dan berpaling dari Allah demi sesuatu. Sembahlah Allah atas dasar agungnya kedekatan, engkau akan mendapatkan kecintaan dan  keistimewaan pilihan, kekhususan dan kewalian dari Allah. “Allah adalah Wali bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Sedangkan —untuk lelaki yang perlu dikasihani ini— faktor yang menyebabkan putusnya hubungan ketaatan dengan Allah, dan hatinya yang tehijabi dari bukti-bukti ketauhidan, ada dua perkara: Pertama ia masuk dalam pekerjaan dunianya dengan cara  ikut campur mengaturnya. Kedua dalam amal akhiratnya dipenuhi keraguan atas anugerah-anugerah Ilahi Sang Kekasih. Sehingga Allah menyiksanya lewat hijab, dan terus menerus dalam keraguan, serta melalaikannya akan hisab kelak, lalu ia terjerumus dalam lautan tadbir dan takdir (ikut campur aturan dan takdir Allah). Lalu ia mendekati dengan kehati-hatian yang kotor. Apakah kalian semua tidak bertobat kepada Allah dan mohon ampunan kepada-Nya, sedangkan Alllah itu maha Pengampun lagi Maha Pengasih.  Karena itu kembalilah pada Allah berkaitan dengan prinsip-prinsip pengaturan dan takdir, engkau akan mendapatkan limpahan kemudahan, antara dirimu dengan kesulitan yang ada akan terhapuskan. Setiap  ke-wira’i-an yang tidak membuahkan ilmu dan nur, maka kewira’ian itu sama sekali tak berpahala. Sedangkan setiap kemaksiatan yang diikuti oleh rasa takut dan berlari kepada  Allah, janganlah engkau anggap sebagai dosa. Ambilah rizkimu menurut pilihan Allah bagimu dengan mengamalkan ilmu dan mengikuti sunnah Nabi Saw.

Engkau jangan naik ke tahap berikutnya sebelum Allah menaikkan dirimu, sebab dengan tindakanmu itu telapak kakimu bisa tergelincir.

Suatu ketika aku berhasrat pada sedikit saja dari dunia, tidak banyak, lantas aku mengurungkan dan mengkhawatirkan jika hal  itu termasuk adab yang buruk (su’ul adab). Aku bergegas kepada Tuhanku, dan ketika tidur aku bermimpi, seakan-akan Nabi Sulaiman as. sedang duduk di atas tempat tidur, sementara di sekelilingnya banyak pasukan. Beliau menyodorkan periuk dan piringnya. Aku melihat suatu hal yang telah disifatkan Allah dalam firman-Nya: “dan piring-piring yang besarnya seperti kolam dan  periuk-periuk yang tetap (di atas tungkunya).” (Q.s. Saba’: 13). Lalu  tiba-tiba ada yang memanggilku, “Janganlah engkau memilih sedikitpun di sisi Allah, namun jika engkau memilih sebagai ubudiyah semata bagi Allah dalam rangka mengikuti Rasulullah Saw. ketika  bersabda: “Sebagai hamba yang bersyukur” yakni sebagai Rasul. Kalau toh pun harus memilih, pilihlah untuk tidak memilih. Dan larikanlah pilihanmu itu pada pilihan Allah.”

Aku terbangun dari tidurku, lalu kulihat ada yang berkata padaku, “Sesungguhnya Allah telah memilihkanmu untuk berdoa:

“Ya Allah luaskanlah rizki padaku dari duniaku, dan janganlah engkau jadikan hijab dengannya (rizki dunia) itu terhadap akhiratku. Jadikanlah tempatku di sisi-Mu selamanya  di hadapan-Mu, senantiasa memandang dari-Mu kepada-Mu. Tampakkanlah Wajah-Mu dan tampakkanlah padaku dari penglihatan dan dari segala sesuatu selain-Mu. Hapuskanlah penghalang antara diriku dengan  Diri-Mu. Wahai Dzat, yang Dia adalah Maha Awal, Maha Akhir, Maha Dzahir, Maha Batin, dan Dia adalah Maha Tahu atas segala sesuatu.”

Manusia paling celaka adalah manusia yang menghalangai diri  pada Tuhannya, dan mengambil alih urusan duniawinya, sementara ia alpa akan prinsip dan tujuan, serta amal akhiratnya.

 Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary
Allah SWT mengetahui bahwa para hamba itu berhasrat kepada munculnya rahasia pertolongan, maka Allah Swt, berfirman: 
“Allah mengkhususkan RahmatNya kepada orang yang dikehendakiNya.
” (Al-Baqarah: 105) 

Dan Dia Tahu, bila mereka dibiarkan (mengetahui rahasianya), maka mereka akan meninggalkan amal itu, karena mengandalkan pada ketentuan Azali. Maka Allah Swt, berfirman 
”Sesungguhnya rahmat Allah itu teramat dekat dengan orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al-A’raf: 56)

Para hamba Allah swt sangat berhasrat mengetahui bagaimana masa depannya, apakah ia dalam kondisi bahagia atau celaka, sehingga para hamba itu ingin tahu rahasia Pertolongan Allah Swt. Lalu mereka berdoa, melakukan berbagai amaliah. Para keinginan para hamba itu, menurut Syteikh Zarruq,  didasari oleh tiga hal:
  • Ingin mengenal segala sesuatu sampai ke akar-akarnya, yang merupakan naluriyah jiwanya.
  • Ingin mengenal faktor-faktor penyebab yang menghantar pada keinginannya.
  • Di dalam nafsunya ada klaim-klaim yang kuat, yang  mendorong dirinya untuk mengenal faktor sesuai yang kehendaki.

Disinilah Allah Swt, mengembalikan bahwa segalanya itu atas kehendakNya, bukan kehendak kita. KehendakNya tidak ada yang bisa memaksaNya. Dialah Sang Penimbul, Pemula dan Pembangkit segalanya. TindakanNya tidak dilatarbelakangi oleh faktor tertentu, sedangkan semua faktor penyebab yang ada ini adalah ciptaanNya pula.

Allah Swt juga Mengetahui, jika hambaNya dibiarkan mengetahui rahasia pertolonganNya, dipastikan mereka malah meninggalkan amaliyahnya, karena bersandar saja pada ketentuan Azali.

Mereka akan mengatakan, 
“Bila di zaman azali ada ketentuan bahwa saya ahli syurga, untuk apa saya beribadah, berdo’a  dan berusaha?”
Maka Allah Swt pun berfirman, 
“Sesungguhnya rahmat Allah itu teramat dekat dengan orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Amaliyah yang sholeh hanyalah pertanda akan adanya ‘Inayah, walau pun tidak menjadi sebab wajib yang menentukan ‘Inayah itu harus demikian.

Ibnu Athaillah menegaskan berikutnya:
“Segala sesuatu tergantung KehendakNya, bukan KehendakNya bergantung pada segala sesuatu.”

Segala yang ada ini muncul karena kehendak AzaliNya. Doa, amal ibadah, dan usaha tidak memiliki pengaruh apa pun, pada munculnya kehendak para hamba. Semua bergantung pada hukum Azali.

Lalu aturan kehambaan kita, adalah aturan harus dilakukan, yaitu berusaha, beramal ibadah, taat dan patuh dan senantiasa butuh kepada Allah Swt, sebagai perwujudan kepatuhan hamba kepadaNya.

Al-Wasithy mengatakan, sesungguhnya Allah Swt tidak mendekati si fakir karena kefakirannya, juga tidak menjauhi si kayak karena kekayaannya. Seluruh makhluk ini tidak memiliki pengaruh, baik sukses maupun gagal, bahkan seandainya dunia dan akhirat anda serahkan sepenuhnya kepada Allah, anda tetap tidak akan sampai kepada Allah Swt, dengan dunia dan akhirat anda. Allah mendekatkan mereka kepadaNya, bukan karena sebab atau faktor tertentu, dan Allah mejauhkan mereka dariNya, juga bukan karena faktor-faktor tertentu. Allah Swt, berfirman: 
“Siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah baginya, maka ia tidak akan meraih cahaya itu.”

Namun, bila Allah Swt, menghendaki hambaNya untuk meraih anugerahNya, maka si hamba pun ditakdirkan untuk berikhtiar, patuh dan beramal sholeh serta ibadah yang benar, tetapi  seluruh tindakan hamba itu tidak menjadi penyebab yang mengharuskan turunnya anugerah, namun amal ibadah dan kepatuhan itulah anugerah yang sesungguhnya.

"Seandainya saja anda tidak sampai (wushul) padaNya, kecuali harus melalui sirnanya keburukan-keburukan anda, dan terhapusnya klaim-klaim anda, maka anda pasti tidak akan pernah sampai kepadaNya selama-lamanya.
Namun,apabila Allah Ta'ala hendak mewushulkan dirimu padaNya, maka Allah menutupi sifatmu dengan SifatNya, dan menirai karaktermu dengan KarakterNya. Maka Wushul anda kepadaNya, adalah karena dari Dia kepadamu, bukan dari dirimu kepadaNya."

Wushul kepada Allah adalah mengenal Allah dan segala hal dirinya berada dalam liputan Ilahi. Namun bila Allah hendak mewushulkan anda, Allah Ta'ala menutupi dan menirai sifat-sifat anda, dengan Sifat-sifat Allah Ta'ala, dengan jalan Allah menfanakan anda dan mentajalikan Baqo' Nya, dan semua itu tidak akan terjadi manakala tidak ada kematian nafsu, pengkasan ego kepala, dan penyerahan ruh, dan menyerahkan segala hal yang bersifat duniawi.

Namun tidak satu pun bisa sempurna, tak satu pun mampu menmbersihkan dirinya secara total, bahkan seorang hamba tidak akan bisa membuang klaim-klaim alam ruhaninya, kecuali melalui pertolongan Allah Azza wa Jalla. Dan seluruh proses penfanaan itu adalah bukan perbuatan hamba atau upaya si hamba. Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily menegaskan, "Seorang wali tidak akan sampai kepada Allah Ta'ala manakala dalam dirinya masih ada syahwat, atau masih ada keinginan mengatur dan keinginan berupaya." Seseorang tidak bisa sampai kepada Allah Ta'ala dengan "aku"nya, dengan "diri"nya.

Semua karena fadhal dan rahmatnya Allah swt. Karena itu kita harus terus menerus bergantung dengan Allah swt, bergantung dengan Sifat-sifatNya dengan meleburkan diri, sirna dan fana kepadaNya, namun semua itu akan gagal manakala tidak mendapatkan pertolongan dari Allah Ta'ala. Maka, di masyarakat kita, banyak orang mengaku wushul, banyak orang merasa telah ma'rifat, banyak orang merasa telah sampai kepada Allah Ta'ala, padahal jangankan bisa sampai kepada Allah, untuk membuang klaim dirinya bisa begini dan begitu saja, manusia tidak mampu. Allah Ta'ala lah yang bisa menenggelamkan kefakiran anda dalam Maha CukupNya, menghapus kelemahan anda dalam Maha KuatNya, ketakberdayaan anda dalam Maha KuasaNya, rasa hina anda dalam Maha MulyaNya. Semua karena Allah Ta'ala jua. Bukan karena diri anda, amal anda, perjuangan anda, ikhtiar anda. Bukan itu semua.

“Allah swt mengetahui bahwa para hamba itu berhasrat kepada munculnya rahasia pertolongan, maka Allah Swt, berfirman: “Allah mengkhususkan RahmatNya kepada orang yang dikehendakiNya.” (Al-Baqarah: 105) Dan Dia Tahu, bila mereka dibiarkan (mengetahui rahasianya), maka mereka akan meninggalkan amal itu, karena mengandalkan pada ketentuan Azali. Maka Allah Swt, berfirman ”Sesungguhnya rahmat Allah itu teramat dekat dengan orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al-A’raf: 56)

Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary

PARA hamba Allah swt sangat berhasrat mengetahui bagaimana masa depannya, apakah ia dalam kondisi bahagia atau celaka, sehingga para hamba itu ingin tahu rahasia Pertolongan Allah Swt. Lalu mereka berdoa, melakukan berbagai amaliah.

Para keinginan para hamba itu, menurut Syteikh Zarruq,  didasari oleh tiga hal:
Ingin mengenal segala sesuatu sampai ke akar-akarnya, yang merupakan naluriyah jiwanya.
Ingin mengenal faktor-faktor penyebab yang menghantar pada keinginannya.
Di dalam nafsunya ada klaim-klaim yang kuat, yang  mendorong dirinya untuk mengenal faktor sesuai yang kehendaki.
Disinilah Allah Swt, mengembalikan bahwa segalanya itu atas kehendakNya, bukan kehendak kita. KehendakNya tidak ada yang bisa memaksaNya. Dialah Sang Penimbul, Pemula dan Pembangkit segalanya. TindakanNya tidak dilatarbelakangi oleh faktor tertentu, sedangkan semua faktor penyebab yang ada ini adalah ciptaanNya pula.

Allah Swt juga Mengetahui, jika hambaNya dibiarkan mengetahui rahasia pertolonganNya, dipastikan mereka malah meninggalkan amaliyahnya, karena bersandar saja pada ketentuan Azali.

Mereka akan mengatakan, “Bila di zaman azali ada ketentuan bahwa saya ahli syurga, untuk apa saya beribadah, berdo’a  dan berusaha?”
Maka Allah Swt pun berfirman, “Sesungguhnya rahmat Allah itu teramat dekat dengan orang-orang yang berbuat kebajikan.”
Amaliyah yang sholeh hanyalah pertanda akan adanya ‘Inayah, walau pun tidak menjadi sebab wajib yang menentukan ‘Inayah itu harus demikian.

Ibnu Athaillah menegaskan berikutnya:
“Segala sesuatu tergantung KehendakNya, bukan KehendakNya bergantung pada segala sesuatu.”

Segala yang ada ini muncul karena kehendak AzaliNya. Doa, amal ibadah, dan usaha tidak memiliki pengaruh apa pun, pada munculnya kehendak para hamba. Semua bergantung pada hukum Azali.

Lalu aturan kehambaan kita, adalah aturan harus dilakukan, yaitu berusaha, beramal ibadah, taat dan patuh dan senantiasa butuh kepada Allah Swt, sebagai perwujudan kepatuhan hamba kepadaNya.

Al-Wasithy mengatakan, sesungguhnya Allah Swt tidak mendekati si fakir karena kefakirannya, juga tidak menjauhi si kayak arena kekayaannya. Seluruh makhluk ini tidak memiliki pengaruh, baik sukses maupun gagal, bahkan seandainya dunia adan akhirat anda serahkan sepenuhnya kepada Allah, anda tetap tidak akan sampai kepada Allah Swt, dengan dunia dan akhirat anda. Allah mendekatkan mereka kepadaNya, bukan karena sebab atau faktor tertentu, dan Allah mejauhkan mereka dariNya, juga bukan karena faktor-faktor tertentu. Allah Swt, berfirman: 
“Siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah baginya, 
maka ia tidak akan meraih cahaya itu.”

Namun, bila Allah Swt, menghendaki hambaNya untuk meraih anugerahNya, maka si hamba pun ditakdirkan untuk berikhtiar, patuh dan beramal sholeh serta ibadah yang benar, tetapi  seluruh tindakan hamba itu tidak menjadi penyebab yang mengharuskan turunnya anugerah, namun amal ibadah dan kepatuhan itulah anugerah yang sesungguhnya.

Pemberian dari makhluk itu bisa merupakan penghalang,sedangkan halangan dari Allah itu adalah anugerah.Kenapa demikian? 

Karena halangan dari Allah justru mendorong seseorang untuk kembali cepat menuju kepadaNya dan terus mengabadikan diri di hadapanNya, disamping memberikan peluang ikhtiar bagi diri anda. Karena mana mungkin Dia menghalangimu,sedangkan Dia tidak pernah pelit, tidak butuh apa-apa, dan selaluAda? 

Bahwa Dia menghalangimu semata karena kasih sayang-Nya kepadamu.Karena pemberian dari-Nya itulah pemberian yang sesungguhnya dan terhalangnya keinginanmu itulah kenyataan dari anugerah pemberian-Nya. Pandangan ini hanya bisa dimengerti oleh orang yang memahamiNya. 

Tidak ada yang memahami kecuali orang yang benar hatinya.Syeikh Muhyiddin Ibnu Araby mengatakan, 
"Apabila Allah menghalangimu, maka itulah pemberian-Nya. Dan manakala Allah memberi sesuatu padamu, maka itulah halangan-Nya. Maka pilihlah untuk tidak mengambil."

Maksudnya jika pemberian itu justru menghalangimu dari Allah maka itu bukan pemberian yang hakiki, karena itu harus dihindari.Sedangkan kata-kata Ibnu Athaillah, bahwa pemberian dari makhluk itu dinilai sebagai penghalang, menurut Syeikh Zarruq karena tiga alasan :
  • Terjadinya ketergantungan dengan makhluk. Seorang bijak berkata, 
"Sabar terhadap ketiadaan itu lebih mudah ketimbang orang yang tergantung 
dengan anugerah orang."
  • Lebih berpihak kepada makhluk dan merasa senang denganpemberian makhluk (bukan pemberian Allah). Manakalaseseorang mulai bergantung pada makhluk, itulah awal daribencana penjauhan dirimu dengan Allah Ta'ala. Na'udzubillah.
  • Lebih banyak bersibuk ria dengan mereka dengan asumsi adanya rasa selamat manakala bergantung dengan mereka. Sibijak berkata, 
"Harga diri yang bersih itu lebih utama ketimbang kesenangan yang berbuntut dibaliknya."

Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily menegaskan,
"Hendaknya lari dari kebaikan sesama itu lebih anda utamakan dibanding lari dari keburukan mereka. Sebab kebaikan mereka itu bisa menimpa hatimu, sementara keburukan mereka hanya menimpa badanmu.Musuh yang bisa mengembalikan dirimu kepada Allah itu lebih baik ketimbang sahabat yang menghalangimu menuju Allah Ta'ala."
Sayyidina Ali Karmomallahu Wajhah mengatakan, 
"Jangan jadikan seorang pemberi nikmat antara dirimu dengan Allah, sebab jika engkau mengukur nikmat selain dari Allah berarti engkau terpuruk."


Rasa susah atas hilangnya ketaatan kepada Allah dengan tidak disertai bangkit kembali kepada Allah, termasuk tanda-tanda tipudaya.

Rasa susah adalah tersempitnya hati karena kehilangan sesuatu yang kita cintai, atau rasa takut terhadap datangnya hal-hal yang kita benci yang menimbulkan rasa gelisah. Seluruh ketakutan dan kekawatiran bahkan kegelisahan itu jika menumbuhkan kebangkitan diri menuju Allah berarti memiliki efek postif dan baik.

Sebaliknya jika tidak,bahkan menikmati kegelisahan dan romantisme atas keputusasaan, justru berubah buruk, karena terpedaya oleh tipu daya nafsunya itu sendiri.Banyak orang yang mengalami krisis kejiwaan membuat dirinya tertimpa kemalasan, kejenuhan beribadah, dengan sejumlah alasan yang diungkapkan oleh nafsunya sendiri. 

Dan kegelisahan itu bisa menimbulkan putus asa karena merasa apa yang muncul itu daridirinya, manakala tidak dikembalikan kepada Allah.Abu Sulaiman ad-Darany mengatakan, 

"Tangis itu bukanlah air mata yang meleleh, tetapi tangis sesungguhnya adalah meninggalkan dan melupakan perkara yang ditangisi."

Berarti seseorang harus tetap menjaga semangat dan stamina bangkit kepada Allah Ta'ala.Hal demikian juga mengandung pelajaran bagi orang yang kehilangan waktu-waktu taatnya, kehilangan perbuatan baiknya, jangan sampai terjerumus dalam penyesalan yang ekstrim yang mengarah pada kegelisahan, lalu ia kehilangan harapan kepada Allah. Jika itu terjadi berarti kita telah masuk ke lembah tipu daya(ghurur).Sebagaimana di awal hikmah Ibnu Athaillah disebutkan, 

"Tanda-tanda seseorang masih mengandalkan amalnya, adalah jika orangi tu berbuat salah atau dosa, maka harapannya kepada Allah berkurang.Munculnya harapan yang minim bisa disebabkan karena perasaan bersalah yang berlebihan, menyalahkan diri sendiri berlebihan, lalu merasa tidak pantas lagi menghadap Allah. Rasa tidak pantas menimbulkan semangat turun, lalu lambat laun malah jauh dari Allah."

Tasawuf yang dijalani oleh para ulama salaf pada akhir-akhir ini banyak yang mempertanyakan, sebenarnya Tasawuf itu bersumber dari Islam atau tidak? Ada yang mencurigai Tasawuf itu hasil contekan dari agama lain. Ada yang menuduh Tasawuf itu sudah menyimpang dari ajaran Rasulullah Saw. Itu semua adalah wajar. Karena sesuatu yang bagus, pasti banyak yang meniru atau membuat tiruannya. Ketika ada orang meneliti, dan kebetulan yang diteliti adalah yang imitasi, maka ia akan menyimpulkan bahwa Tasawuf itu melenceng. Kasus seperti ini sering terjadi. Karena itu perlu ditentukan metode apa yang digunakan untuk mempelajari Tasawuf. Apakah mempelajari Tasawuf itu dengan metodologi sains yang menggunakan alat observasi? Ataukah dengan menggunakan hukum akal yang selalu bertanya tentang kausalitas, yang selalu meneliti dan kemudian menyimpulkan dengan memakai beberapa term, dari premis-premis yang digabung hingga mendapatkan kesimpulan akhir? Kalau premis awalnya melenceng dan cara membuat kesimpulannya juga salah, kesimpulannya pun pasti salah. Ada lagi media ketiga, yang mungkin lebih cocok, yaitu yang dinamakan ‘ruh’. Istilahnya, akunya diri. Karena kalau ruh itu diartikan dengan nyawa, masih bisa dibilang, ‘Nyawaku.’ Berarti bukan aku. 

Ruh itu jati diri kemanusiaan, yang sering mendapatkan semacam pencerahan, tiba-tiba seakan-akan mengerti. Contoh, akal bertanya, “Sejak kapan Anda tahu adanya ‘akunya’ Anda?”, “Mulai kapan Anda kenal yang namanya ‘aku’?” Tidak bisa menjawab, karena itu adalah isyraq (pencerahan); akunya diri sadar tentang diri tidak menggunakan akal. Karena kalau berasal dari akal pasti melalui proses penelitian. Yang menerima pengertian tentang adanya ‘aku’ itu namanya ‘ruh’, prosesnya melalui isyraq atau ilham.
Kalau kita memasuki dunia Tasawuf dengan menggunakan ilmu pengetahuan (sains), yang namanya observasi atau pengetahuan hanya mengetahui kulit dan penampilan bentuk. Akhirnya ada yang tertipu dengan pemahaman bahwa Tasawuf adalah orang yang berpakaian lusuh, bajunya tidak rapi, baunya tidak sedap, tidak mau mengendari motor, berjalan kaki saja, dan lain-lain. Itu adalah bentuk tampilan lahir. Kemudian itu dipahami sebagai Tasawuf. Bukan itu yang disebut Tasawuf. Walaupun nanti mungkin ada keadaan murid Tasawuf yang kadang-kadang karena suatu pelajaran harus melakukan hal seperti itu. Dan itu tidak selamanya. Mungkin melalui proses itu juga bisa. Tapi bukan itu yang disebut Tasawuf. Itu bahayanya kalau menyimpulkan sesuatu dari hanya sekedar melihat, katanya, atau kabarnya, pasti tertipu.

Tasawuf itu sebenarnya, ketika belajar zikir, berusaha untuk mengecap zikir itu. Ketika diajari melakukan shalat, berusaha untuk merasakan shalat itu, sudah tidak berpikir lagi tentang sah atau tidaknya shalat. Karena sah dan tidaknya shalat sudah dipelajari sebelumnya. Teori tentang shalat sudah ditinggalkan, tetapi bukan berarti tidak dipakai. Dipakai tetapi sudah tidak menjadi beban. Seperti halnya kursus menyetir; kalau saat menyetir masih membuka buku teori, yang terjadi malah menabrak. Teorinya sudah ditinggalkan, karena sudah menyatu dengan dirinya. Sekarang tinggal mencari jalan yang tepat, bagaimana supaya tidak menabrak, melihat rambu-rambu, dan berusaha menikmati perjalanan.

Tasawuf sendiri mencakup berbagai macam aspek; metodologi, cara bertasawuf, posisi Tasawuf di tengah-tengah Islam,  tujuan Tasawuf, dan seterusnya. Tapi, ajaran-ajaran Tasawuf jangan ditabrakkan dahulu dengan kesimpulan-kesimpulan akal secara umum. Tasawuf harus dirasakan dulu, baru akan terasa pengaruhnya. Belum-belum sudah komentar, “Wah, Tasawuf tidak masuk akal!” Memang Tasawuf bukan urusan akal. Walaupun pada suatu saat akal juga diajak berpikir. Tapi itu pada level tertentu. Maksudnya, ilmu tentang ibadah, ketika masuk ke dalam Tasawuf, sudah bukan menjadi ilmu lagi, tapi sudah menjadi satu kesatuan gerakan ibadah itu sendiri untuk berusaha dirasakan. Dari merasakan ilmu itulah akan muncul ilmu-ilmu baru, akan muncul rasa-rasa baru yang sebelumnya belum pernah dirasakan.

Jadi, Tasawuf pada hakikatnya adalah totalitas kehidupan sufi memasuki ajaran Islam itu sendiri. Kalau di dalam Islam ada Tasawuf, Fikih, dan Tauhid, itu semuanya adalah kesimpulan para ulama terdahulu. Tasawuf berusaha merangkum seluruhnya untuk diajak kembali kepada Allah Swt.

Selanjutnya, siapa sebenarnya syaikh Ibnu Athaillah as-Sakandari penulis kitab al-Hikam ini? Karena tidak ada orang Tasawuf dari Thariqah mana saja yang tidak kenal kitab al-Hikam. Namanya Tajuddin Abul Fadhl Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Abdurrahman bin Abdullah bin Ahmad bin Isa bin al-Husain bin Athaillah al-Judzami as-Sakandari. Dalam bidang fikih ia bermadzhab Maliki. Beliau berhasil menguasai berbagai macam disiplin ilmu yang meliputi; tafsir, hadits, fikih, ushul fikih, tasawuf, nahwu, dll. Dari gurunya beliau mendapat julukan Mufti al-Madzhabain (pemberi fatwa dua madzhab; syariat dan hakikat). Beliau mursyid thariqah asy-Syadziliyah menggantikan guru beliau, syaikh Abil Abbas al-Mursi, yang menjadi pengganti syaikh Abul Hasan asy-Syadzili. Beliau meninggal di kampung Qarafi.

Masuknya syaikh Ibnu Athaillah ke dunia Tasawuf dijelaskan di dalam kitab Thabaqat asy-Syadiliyah. Suatu ketika syaikh Ibnu Athaillah mempunyai konflik dengan salah seorang murid syaikh Abul Abbas al-Mursi. Pada saat itu syaikh Ibnu Athaillah sudah menjadi ulama besar madzhab Maliki, tapi belum masuk dunia Thariqat/Tasawuf. Pada waktu itu beliau mengingkari praktek-praktek Tasawuf Abul Abbas al-Mursi yang dipraktekkan oleh murid-muridnya. Murid syaikh Abul Abbas al-Mursi terpojok, tidak bisa menjawab pertanyaan Ibnu Athaillah. Murid tersebut berkata, “Anda tidak perlu mencela saya. Saya hanya seorang murid. Saya punya guru. Lebih baik kapan-kapan Anda mengikuti pengajian guru saya.” Syaikh Ibnu Athaillah merenung, “Baiklah kalau begitu, daripada aku berbantah-bantahan tentang perkara yang aku sendiri belum tahu kebenarannya. Aku ini orang berilmu kok membicarakan perkara yang belum jelas. Aku akan memperjelas persolan (tabayun). Aku akan mengikuti pengajiannya. Kalau apa yang dikatakan syaikh itu benar, pasti Allah Swt. akan memunculkan tanda-tanda kebenaran.” Akhirnya Ibnu Athaillah mengikuti pengajian syaikh Abul Abbas al-Mursi. Saat itu syaikh Abul Abbas al-Mursi sedang menerangkan tentang tingkatan pesulukan. 

Syaikh Abul Abbas al-Mursi menerangkan panjang lebar hingga sulit dipahami oleh orang awam. Di antara penjelasannya, syaikh Abul Abbas al-Mursi menerangkan tentang ‘kedirian’ seseorang, derajat-derajat suluk kepada Allah Swt., pengalaman-pengalaman yang dilakukan oleh orang-orang suluk, tingkat kedekatan orang suluk kepada Allah, dan macam-macam orang suluk. Beliau berkata, “Yang pertama Islam. Itu adalah derajat tunduk kepada Allah. Kemudian ta’at, dan menjalankan syariat. Yang kedua, Iman. Yaitu maqam makrifat; mengenal hakikat syara’ dengan mengerti keharusan-keharusan hamba. Yang ketiga, Ihsan. Yaitu suasana orang membuktikan kehadiran Allah Swt. di dalam hatinya. 

Dengan istilah lain, Islam itu namanya ibadah. Yang kedua, Iman itu namanya ubudiyah. Yang ketiga, Ihsan itu namanya ‘abudah.” Istilah-istilah itu diperjelas lagi dan diperjelas lagi hingga mencapai beberapa istilah. Yang pada awalnya syaikh Ibnu Athaillah sudah sedikit buruk sangka terhadap syaikh Abul Abbas al-Mursi, akhirnya beliau yakin bahwa syaikh Abul Abbas al-Mursi mendapatkan ilmu tidak hanya sekedar dari kitab, tetapi langsung mendapatkan luapan dari samudera ilmu Allah Swt. “Kalau dari kitab saja, saya pasti sudah tahu, karena saya juga kutu buku,” kata Ibnu Athaillah. “Tapi ada ungkapan-ungkapan yang secara apapun tidak bisa dibantah, namun tidak terdapat dalam buku. Ini pasti dari Tuhan.” Seusai pengajian buruk sangka Ibnu Athaillah terhadap Abul Abbas al-Mursi pun sirna dan berganti dengan rasa cinta yang datang secara tiba-tiba. Sepulang dari pengajian beliau tidak mampu masuk rumah. Beliau merasakan suatu rasa yang aneh dan tidak bisa beliau dipahami. 

Akhirnya beliau menyepi memandang langit. Beliau putus asa dan menyimpulkan bahwa tidak ada yang bisa memberikan solusi kepadanya kecuali Abul Abbas al-Mursi. Akhirnya Ibnu Athaillah bertemu dengan syaikh Abul Abbas al-Mursi dan menyatakan, “Demi Allah, saya menyukai Anda.” Jawab syaikh Abul Abbas, “Semoga Allah menyukaimu sebagaimana engkau menyukaiku.” Dengan jawaban itu beliau sudah merasa tersindir, karena beliau datang tanpa mengucapkan salam, langsung mengucapkan kata-kata tersebut, sebab hatinya memberontak ingin cepat bertemu dengan syaikh Abul Abbas al-Mursi. Seluruh yang dialami syaikh Ibnu Athaillah pun dipasrahkan kepada gurunya. Beliau dibimbing oleh gurunya, syaikh Abul Abbas al-Mursi, hingga syaikh Abul Abbas al-Mursi berkata, “Sungguh, kalau anak muda yang sudah jadi ulama ini benar-benar patuh kepadaku dan tekun, suatu saat ia akan menjadi mufti al-madzhabain. Ia akan menguasai ilmu lahir dan ilmu batin.”

Source : saduran dari pengajian KH. Imran Jamil